TERAPI PERILAKU ANAK KEBUTUHAN KHUSUS - Kumpulan Materi
Breaking News
Loading...
Rabu, 18 April 2018

TERAPI PERILAKU ANAK KEBUTUHAN KHUSUS

Kumpulan Materi - Berikut format umum untuk suatu uji coba (training trial) (Bagan 1). 

  • Terapis memberi suatu stimulus atau rangkasangan berupa instruksi ke anak yang memperhatikan terapis atau tugas di tangannya. 
  • Stimulus ini mungkin diikuti oleh prompt untuk menimbulkan respon yang dimaksud. 
  • Anak berespon benar/tepat atau salah/tidak tepat, atau tidak berespon (dianggap salah). 
  • Terapis berespon dengan memberi imbalan atas respon anak, yaitu memberi hadiah jika benar dan mengatakan “tidak” jika salah. 
  • Teradapat senggang waktu atau interval singkat sebelum memulai uji coba berikutnya. 

1. Instruksi 

Instruksi yang diberikan singkat, jelas, konsisten, dan hanya diberikan sekali, jangan diulang-ulang. Yang dimaksud singkat adalah instruksi yang terdiri dari satu kata, misalnya “tiru”, “lihat”, “masukkan”, “samakan”, “buka”, “tunjuk”, dan “biru” dengan prompt. Jadi, hanya ucapkan kata kuncinya saja dari apa yang terapis instruksikan. Berikan dengan suara netral, cukup keras, dan tegas, tetapi tidak bentak-bentak. 


Pada tahap awal, jangan gunakan kalimat panjang lebar atau berbunga-bunga, misalnya “Doni sayang, coba lihat ke sini. Ibu mau ajarkan Doni meniru gerakan. Pertama-tama Ibu beri contoh, kemudian Doni ikuti ya sayan ya” Hal ini tidak akan dimengerti oleh anak. 

Gangguan tersebut seperti Anda mendengarkan siaran radio BBC pada gelombang pendek yang suaranya hilang timbul maka penyandang autisme hanya menangkap sebagian-sebagaian dari kalimat panjang tersebut. Ada kemungkinan kata yang didengarkannya adalah kata yang tidak memiliki makna, seperti jika Anda mendengarkan perintah dalam bahasa Rusia (bagi yang tidak mengerti bahasa Rusia). Perlambatan sinyal-sinyal tidak segera sampai ke pusat-pusat di otak mereka. Mungkin ada keterlambatan (delay) sepersekian detik, bahkan satu sampai dua detik sehingga kata-kata yang tiba di pusat otak anak autis bertumpuk-tumpuk. Akhirnya, hanya kata terakhir saja dalam kalimat tadi yang tertangkap, misalnya hanya kata “ya”. 

Instruksi harus jelas, artinya sesuai dengan apa yang ingin diajarkan dan hanya mengajarkan satu aktivitas. Misalnya, terapis sedang mengajarkan meniru gerakan tepuk tangan, maka perintahnya adalah “tiru tetapi bersamaan dengan memberikan prompt tepuk tangan. Jika terapis ingin mengajarkan anak mengikuti perintah sederhana satu tahap, misalnya instruksi “tepuk tangan”, tangan terapis sepenuhnya diam dan tidak memberikan prompt. Jika terapis sepenuhnya diam dan tidak memberikan prompt. jika Jika terapis membeikan perintah “tepuk tangan”, tetapi terapis juga ikut bertepuk tangan maka hal tersebut menjadi tidak jelas, apakah terapis sedang mengajarkan meniru (imitates gross motor movement) atau perintah sederhana satu tahap (follows one-step instruction). Terapis yang tidak jelas tidak akan mengajarkan apa pun kepada anak autisme sehingga tidak bermanfaat.


Instruksi yang konsisten adalah kata-kata yang digunakan terapis maupun orang lain di rumah untuk satu intruki tahap awal harus persis sama, misalnya “masukkan” jangan ada yang memberi perintah “ masukkin”, masukken”, atau “masupin” karena anak akan menangkapnya sebagai perintah berbeda.
Umumnya, suatu kegiatan belajar selesai sekitar 2-3 jam termasuk istirahat. Tugas instruksional spesifik selesai 2-5 menit diikuti istirahat pendek 1-2 menit. Biasanya, pada akhir setiap jam instruksional anak diberi 15-20 menit istirahat untuk makan makanan kecil, bermain bebas, dan aktivitas lainnya.
Saat belajar, anak mungkin akan meloncat-loncat di sekitar kursinya, menarik rambut terapis, dan menjerit. Tidak ada gunanya memberikan instruksi, jika anak tidak perhatian. Semua perilaku ketidak perhatian (attending) dan lepas tugas (off-taskI harus dihilangkan sebelum instruksi target diberikan. Dengan kata lain, sebelum mengajaran anak dengan instruksi “pegang merah”, yakinkan anak merespon baik terhadap instruksi “lihat”, “tangan ke bawah”, “duduk tenang”, “jangan menjerit”, dan “tidak”. Instruksi tidak diberikan saat anak sedang melakukan stimulasi diri atau pada perilaku lepas-tugas.

2. Respon
Dalam merespon instruksi terapis, anak mungkin melakukannya dengan benar, setengah benar, salah atau tidak merespon sama sekali, yang juga dinilai salah. Secara umum, jika anak salah merespon, biarkan sekitar 2-3 detik untuk anak memulai responnya, berikan umpan balik lisan ringan “tidak”, kemudian berikan instruksi sekali lagi.jika anak tetap salah atau tidak merespon, berian umpan-balik lisan ringan “tidak”, kemudian berikan instruksi yang ketiga kali dan harus bersamaan dengan prompt, seperti sentuhan di lengan atua tangan, atau bantuan penuh pada tangan (hand over hand), setelah itu berikan imbalan. Setelah senggang waktu (intertrial interval), uji coba diulangi lagi dengan hitungan instruksi nomor satu.

Setelah uji coba ini diulang beberapa kali (1,2,3 + prompt + imbalan, 1, 2, 3, + prompt + imbalan), anak mungkin akan memberikan respon yang benar atau setengah benar setelah instruksi respon yang benar atau setengah benar setelah instruksi pertama atau kedua. Contohnya pada instruksi “tiru” untuk menirukan gerakan tangan ke atas anak mulai mengangkat tangannya setengah jalan. Respon yang benar segera beri imbalan. Respon yang setengah benar segera lakukan prompt, lalu beri imbalan.

Setelah memberikan imbalan tersebut (pada respon benar atau setengah benar + Prompt), hitungan kembali ke intruksi pertama, tidak melanjutkan ke hitungan berikutnya (kedua atau ketiga). Akhirnya, anak akan berespon segera setelah instruksi yang pertama dengan instruksi cukup satu kali. Respon yang benar tanpa prompt, tentu perlu mendapat imbalan lebih besar daripada respon setengah benar + prompt, dan jauh lebih besar dibanding respon karena prompt

3. Prompt (bantuan, dorongan, dan arahan)
Beberapa anak memerlukan tambahan bantuan untuk melakukan keterampilan atau perilaku yang diinginkan. Sebagai contoh, jika instruksi “pegang hidung” diberikan dan anak tidak merespon, terapis dapat melakukan prompt secara fisik dengan menggerakkan tangan anak ketika memberikan instruksi “pegang hidung”.

Jadi, prompt adalah setiap bantuan yang diberikan pada anak untuk menghasilkan respon yang benar. Prompt merupakan tambahan, jadi tidak selalu digunakan jika memang tidak diperlukan, bahkan saat pertama latihan pun.











Sumber: Danuatmaja B. (2003). Terapi anak autis di rumah. Jakarta: Puspa Swara, Anggota Ikapi. (Hal. 36-39)

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

 
Toggle Footer